Patah Hati

Pernahkah sahabat merasakan jatuh hati pada seseorang? Pastilah bahagia dan senang menjadi tema utama bagi orang yang tengah menikmatinya. Buatku dan pasti juga buat mu..semuanya adalah fitrah jika rasa hati kita senang dengan apa yang kita harapkan kemudian kita mendapatkannya. Entah mendapatkan sesuatu atau seseorang. Seperti firman Allah di surat Ali Imran : 14

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."

Nah, tetapi bagaimana jika kita mendapatkan yang sebaliknya? Coba perhatikan cuplikan puisi ”Sayap Sayap Patah” yang ditulis oleh Kahlil Gibran (lepas dari latar belakangnya, tapi cukuplah kita ambil hikmah yang menyiratkan suasana hati seseorang) berikut ini:

Hati terjatuh dan terluka
Merobek malam menoreh seribu duka
Kukepakkan sayap - sayap patahku
Mengikuti hembusan angin yang berlalu
Menancapkan rindu
Di sudut hati yang beku
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin
Berserakan
Sebelum hilang diterpa angin

Sambil terduduk lemah..

Hmm...begitulah. Luka yang mendalam seringkali mewujudkan murung, amarah, sedih, tangis yang menjadi warna wajah kita. Tapi sahabat..pernahkah engkau merenungkan bahwa ternyata itu bukanlah patah hati jika dengannya menghantarkan kita untuk semakin lekat dan dekat dengan Allah, menjadi semakin jatuh hati pada Allah, menjadi semakin mantabbb pada jalan taubat. Bukan..bukan itu patah hati.

Bukanlah air mata sia – sia jika seiring melelehnya ia dari sudut pelupuk mata ini meningkatkan sinyal hati kita untuk segera tanggap dengan kebaikan. Menggerus debu hati kita hingga ia menghilang. Mensuply energi demi membangun istana Allah disini..dijiwa ini. Membuat kita benci dengan kemaksiatan dalam diri seumpama zaarah sekalipun!!! Bukan..bukanlah itu patah hati.

Juga bukanlah langkah hidup yang bodoh ketika diri berazzam (bertekat) menghentikan keterikatan hati dengan seseorang yang belumlah halal dimiliki sedang pernikahan masih jauh dari awang – awang. Yaa..jika dengan itu mengantarkan beliau kembali pada Allah...mengembalikan lagi hati beliau pada kehakikian cinta... Karena bukankah cinta pada makna terdalamnya memuliakan setiap penikmatnya? Maka jika kita yakini itu adalah baik untuk beliau, apalah arti pengorbanan hati yang kelak akan menghantarkan penikmatnya pada jamuan syurga?

Sungguh. Kebahagiaan itu bukan terpusat pada sesuatu atau seseorang maka ia ada. Tapi pusaran itu ada pada Allah. Maka, patah hati dan jatuh cinta berada pada posisi yang sama tatkala keduanya sama – sama mampu membuat diri ini jauh melambung tinggi di langit cinta-Nya.

Allah…temani kami dalam ketertatihan ini untuk merangkak menuju tangga cinta-Mu, bimbinglah kami selalu agar tak henti kami kecuali pada puncak cinta-Mu dan ajarilah kami semua untuk mencintai-Mu agar boleh kami mendapatkan cinta-Mu. Amiin alahumma amiin.

Allahu ’alam bishshowab.

Al faqir ilallah

- Aku -

Share on Google Plus

About Ari Asri

Assalamu'alaikum.. Saya adalah ibu rumah tangga dan wirausaha. Salam kenal semua..
Post a Comment