CITA

Sahabat, sudah menjadi fitrah manusia selalu menginginkan yang sempurna. Karenanya manusia punya cita – cita. Diberikannya akal, jasad dan ruh yang jika dikombinasikan dengan sempurna, bisa menjadi tools ikhtiar kita demi mendapatkan apa yang kita cita citakan.

Jika harapan dan cita – cita sudah mendarah daging dalam dada, mengakar dalam otak, mengalir dalam darah, berdetak dalam irama jantung. Maka jasad, akal dan ruh berusaha mengikutinya. Jasad bersujud. Diwaktu yang lain lidah berdoa, disaat yang sama tangan menengadah, air mata menghiba. Akal bergerak menyusun dan menuntun sang empunya jasad dengan ilmu yang dimilikinya. Merangkai kalimat doa, berfikir tentang cara, mencari jalan atas persoalan, meraih, merangkak dan teruussss berjalan. Berlari. Bergerak menuju cita dalam genggam. Tidak ada zona larangan terbang dalam ranah cita. Tidak ada hak cipta. Tidak ada pajak. Tidak ada seleksi. Tidak ada bea masuk. Tidak ada apa – apa!! Maka apa lagi yang ditunggu???

Masih segar dalam ingatan, perkataan seorang mantan Presiden Amerika. ”Orang yang tidak memiliki cita – cita yang ia rela mati untuknya, adalah orang yang layak mati!!!” Demikianlah. Cita – cita hanya layak dimiliki oleh orang hidup yang hidup. Sebab banyak pula orang hidup yang mati. Yaitu orang – orang yang hidup jasadnya, tetapi tak lagi memiliki cita – cita, putus asa dengan harapan, mundur dengan tantangan, merasa masa depan gelapp serupa pekuburan.

Allah memberi manusia modal untuk berikhtiar, dimana ruang ikhtiar manusia bisa mengekspresikan cita – citanya dengan cara sesuai syariat agama tentunya. Sementara dzikir dan doa adalah ruang komunikasi yang tersedia untuk setiap hambaNya dengan Allah Maha Pencipta. Ruang dimana kita dapat berinteraksi dengan Allah. Ruang dimana kita dapat mengakui dan menyampaikan segala dosa, segala rencana, segala asa, juga cinta. Dunia tidaklah haram untuk digenggam, namun memang tidak layak untuk jadi mahkota hati. Maka ikhtiar ke puncak cita – cita dunia dan akhirat melalui ketajaman akal, dengan kekuatan jasad dan disertai kebeningan ruh adalah sebuah keniscayaan bagi manusia yang ingin hidup dalam kehidupannya.

Selepasnya. Janganlah sahabat lupa..bahwa ada ruang khusus dimana hanya Allah yang Maha Bijaksana memiliki setiap keputusan atas hasil dari ikhtiar. Adalah hak prerogatif Allah untuk memilihkan yang terbaikNya bagi kita. Disini tak ada yang dapat dilakukan seorang hamba, terkecuali sami’na wa atho’na. Dengar kemudian taat. Dengan sepenuh hati. Seindah tawadhu. Sebulat tekat. Sebersih ikhlas.

Maka, adalah kewajiban kita untuk mempersiapkan segala kemungkinan selepas ikhtiar. Adalah keterbatasan mata kita yang memandang satu hal itu membahagiakan atau menyedihkan. Maka mari sama – sama berlindung pada Allah dari terkabulnya doa atau tertundanya, tergantikannya pengabulan doa – doa kita. Seringkali kita mampu tersadar dengan kesedihan, namun alpa dengan bahagia. Padahal kesedihan tak melulu ujian dari Allah bagi seseorang, karena seringkali pula kita justru tergelincir pada kebahagiaan.

” Ya Rabb kami...genggamkan lah dunia ditangan kami dan tidak dihati ini.” Amiin.

* siri peringatan bagi aku yang lupa.

Share on Google Plus

About Ari Asri

Assalamu'alaikum.. Saya adalah ibu rumah tangga dan wirausaha. Salam kenal semua..
Post a Comment